coba pahami
Al-Isra’: 37
وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا (٣٧)
"dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
Siang tadi setelah selesai ujian aku memang tidak langsung pulang. Aku nemenin temenku buat ngambil barang. Disaat nunggu, seorang laki-laki mendekat. Bapak itu tukang parkir di toko itu. Ia mencoba ramah dan mengajak berbicara. Terkadang respon kita diajak bicara orang yang tidak dikenal atau seseorang yang kita anggap "hanya" itu tidak baik.
" tanggepin ga ya.."
"alah jawab seadanya aja"
"halah iya in aja."
"nanti dia kerasa sendiri. langsung pergi"
Jujur aku pernah mikir seperti itu. Tapi waktu tadi tidak. Aku menanggapinya dengan baik. Lalu bapak itu bercerita tentang susahnya dulu ia menggapai mimpinya. Tentang lebih mudahnya pendidikan sekarang.
"Sing penting ki semangat mba."
"Dudu sing semangat sing angger butuh semangat. Semangat kui ora gur meneng wae nang panggon sing saiki gawe nyaman. tapi obah men maju lan berhasil."
Pembicaraanpun berlanjut..
Ia menceritakan tentang cucunya. Cucunya perempuan yang sekarang kuliah tingkat pertama. Bapak itu bercerita ia membelikan laptop buat cucunya. tujuannya
"Men kuliah lancar mba."
belum ada satu tahun , cucunya sudah minta ganti laptop dengan alasan laptopnya ga sesuai , ga ada ini itu buat kuliah. Raut muka bapak tadi mulai berubah.Matanya mulai berair. Ia bercerita, ia mencarikan uang 5juta dengan hanya berpenghasilan sebagai tukang parkir setiap harinya,bisa bayangkan?
"sing penting putuku ora gelo mba. Ora kesendat sinaune. rapopo aku rekasa mba."
Lalu bapak itu berlalu, mungkin untuk menyeka air matanya. Aku masih terdiam ditempat.
Walaupun pembicaraan yang singkat itu, banyak pelajaran yang diberikan. Orang tua kita yang selalu memenuhi keinginan kita. Selalu memperjuangkan kebahagian kita. Selalu berusaha menipis kekecewaan kita. Masih bisa-bisanya kita bikin mereka kecewa malah mementingkan kebahagian orang lain yang belum tentu ia berjuang buat kebahagian kita juga?
Terkadang dari obrolan singkat dengan orang yang tidak dikenal yang mungkin saja sering kita remehkan keakraban dan keramahannya lebih bermanfaat daripada obrolan kita dengan orang yang kita hargai. Mungkin obrolan kita dengan orang yang kita hargai lebih tidak berisi. Hanya menggunjing, menjelek-jelekkan orang lain , mencari kesalahan orang lain.Apakah itu lebih bermanfaat dari obrolan singkat seperti bersama tukang parkir tadi yang aku alamin ?
Lalu aku bertemu temanku yang lain
"Koe ngopo tin? kok omongan mbi tukang parkir. serius men.Mesti ra penting."
Mereka yang suka meremehkan orang lain tidak tau seberapa hebat kehidupan orang yang diremehkannya.
Jangan pernah meremahkan orang lain ya teman :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar